Senin, 30 Januari 2017

Komunikasi produktif "day 8"

Hari ini niatnya mau survey sekolah PAUD untuk persiapan anak masuk sekolah, alhamdulillah setelah mandi, sarapan dan bersih-bersih berangkatlah kita ke sekolah pertama yang sebelumnya sudah ditunjukkan teman, tidak jauh juga dari rumah tapi karena belum tahu saya harus tanya sana sini dahulu, tibalah kita di sekolah yang dituju dan saya mengutarakan apa yang menjadi maksud kedatangan. Dan benar saja ketika saya mengajak anak masuk untuk melihat-lihat suasana sekolah, oke..responnya datar dan tidak mau turun sama sekali. Maunya di gendong terus, oke..fikirku masih awal tempat baru dan butuh adaptasi. Walaupun Azharil tergolong anak yang super aktif tapi kalau di tempat baru juga perlu waktu untuk beradaptasi.
Setelah mendapatkan rincian biaya sekolah dan brosur untuk ditunjukkan ke abahnya Azharil nanti sepulang dari kantor, rencana saya mau mampir ke toko sebentar dan pulang. Eh..sambil lewat kita lihat ada PAUD dan mampirlah kita disana, sama seperti di sekolah sebelumnya saya bertanya ini itu tentang program sekolah, biaya dll tapi berbeda respon anakku karena disini permainan seperti prosotan, jungkat jungkit dll di taruh di depan turun dari motor langsung antusias main ini dan itu, semangat sekali. Agak lama kita disana melihat-lihat dan Azharil ikut bermain-main, sempet juga di ajak ibu guru besok ikut ke pemadam kebakaran.
Setelah itu kita pulang, di jalan saya mencoba berkomunikasi dan bertanya sama anak, sekolah mana yang dia pengin dan dia menjawab sekolah yang kedua. Saya sih sebagai orangtua siap mendukung, memfasilitasi dan mendo'akan apa yang menjadi keinginan anak, dan disini saya juga belajar bagaimana saya mengajak anak untuk mengunjungi satu sekolah dan sekolah yang lain dengan kegiatan-kegiatan di dalamnya, sehingga ketika nantinya dia masuk sekolah dengan hati bahagia dan ikhlas bahwa disitu sekolah yang dia mau, bukan hanya keinginan orangtua yang mendengar dari teman-teman kalau disana itu yang terbaik.
Begitulah komunikasi itu harus terus di bangun apalagi dengan anak, walaupun dia makhluk kecil, bukan berarti kita mengabaikannya dan harus menurut saja dengan apa yang diinginkan orangtua.
Terus belajar sama mana yah nak..
#harike 8
#tantangan 10 hari
#komunikasiproduktif
#bunsayiip

Kamis, 26 Januari 2017

Komunikasi produktif "day 7"

Komunikasi produktif kali ini berbicara tentang kebosanan yang timbul ketika kita tinggal di suatu tempat, seperti saat ini adik ipar baru saja menikah dan istrinya rencana suruh tinggal di rumah ibu mertua, alhamdulillah hampir 3 minggu sudah terlewati. Istri adik ipar tinggal dirumah ibu mertua, katanya sih betah tapi kata adik ipar sering nangis kalau kangen, yaiyalah namanya juga "manten anyar" ditinggal pula, dirumah mertu pula perlu waktu untuk beradaptasi dan jika setiap hari tidak punya kegiatan kejenuhan pun yang akhirnya menghampiri, seperti kata suami kita sudah punya rumah sendiri aja kadang aku masih pengin pulang saja kerumah orangtua. Dua hari dirumah orangtua kemarin seperti mimpi saja rasanya, masih kangen dengan rumah masa kecilku..masih pengin berlama-lama disana, sedih rasanya.. Tapi bagaimana lagi aku sekarang sudah bukan aku yang dulu ketika masih gadis. Aku seorang istri yang berkewajiban menurut pada suami, dan..begitulah sebaliknya suami pun ketika sudah pulang kerumah nya enggan kembali, penginnya seminggu atau dua minggu bahkan sebulan atau sampai puas dirumah. Tapi ada kewajiban lain yang tidak bisa ditinggalkan yakni Pekerjaan, yah..begitulah kita harus belajar untuk bersyukur dan bersabar. Kadang hidup berjalan di luar keinginan kita tapi percayalah yang terjadi adalah yang terbaik. Amin
#harike 7
#tantangan 10 hari
#komunikasiproduktif
#bunsayiip

Komunikasi produktif "day 6"

Komunikasi hari ke 6 aku mencoba berbincang dengan si nang..bayi kecilku yang kini beranjak besar, ceriwis sekali sekarang. banyak hal yang ditanyakan nya, Lihat apapun pasti tanya "apa itu??" kita sebagai orangtua berusaha untuk menjawab dengan jujur dan dengan sebenar-benar nya, bukan cuma jawaban sekenanya saja. Kalau pun kita tidak tau kita mengaku saja bahwa kita belum tahu, begitulah seharusnya orangtua terhadap anaknya.
Seperti hari ini ketika masih dirumah neneknya..dia menyebut nenek dengan sebutan mbah adon ( mbah wadon/ mbah putri) kalau mbah Anang ( mbah lanang/mbah kakung) kali ini aku tanya kalau besok dia ditinggal disini mau apa tidak? Dirumahnya mbah adon sama mbah anang? Karena besok kita harus sudah kembali pulang, sejenak dia diam dan berfikir terus dia jawab "emoh..karo mama" ( nda mau..sendirian..kalau sama mama mau..) seperti itulah kira-kira. Kenapa tidak mau aku tanya gitu, ya udah dia jawab tidak mau aja. Mau pulang ke purwokerto aja gitu katanya, rumahnya Azharil di purwokerto.hee
Padahal dia lahir di rumah mbahnya, besar dan saya tinggal kerja dulu juga sama mbahnya. Dan baru 6 bulan ini kita tinggal di purwokerto dan kita sangat dekat, setiap hari bermain bersama, setiap hari selama 24 jam kita bertemu,  berbeda dengan dulu yang sering saya tinggal bekerja dan lengket dengan mbah. Tapi kini kita sudah pindah malah seakan lupa sama mbah yang merawatnya dari kecil, dan begitulah karena sejatinya anak itu adalah tanggungjawab orangtuanya bukan neneknya, dan jujur dahulu saya pun merasa bersalah luar biasa pada anakku yang harus meninggalkan nya dan neneknya bersusah payah mengasuhnya tiap hari, padahal dulu pun ibu sudah mengasuhku dengan susah payah pula, hingga akhirnya aku memutuskan sebagai full time mom.
#harike 6
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#bunsayiip

Komunikasi produktif "day 5"

Alhamdulillah di komunikasi produktif hari kelima kali ini, di beri kesempatan oleh allah untuk berbincang dengan orangtua, biasa ibu yang mengawali dengan berbagai kabar di desaku dan yang menjadi topik pembicaraan hari ini tentang beberapa orang yang meninggal dunia di desaku secara berdekatan atau jaraknya tidak begitu lama. Ada seorang yang kaya raya sakit lumayan lama sekitar 2 bulan, sebelum akhirnya meninggal dunia. Selama 2 bulan itu dia sakit, anaknya jarang berada di dekatnya karena tempat tinggal jauh dan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Hanya anak perempuannya saja yang setiap hari menemani yang memang rumahnya juga berdekatan, dan satu hal yang di sayangkan banyak orang di desaku dan menjadi pelajaran bagi kita semua, bahwa seorang yang kaya raya ketika meninggal tidak ada anak-anak yang mereka banggakan ketika di dunia, karena memang hanya ilmu duniawi yang di fokuskan. Ilmu agama itu penting dan sangat berguna untuk hidup manusia, untuk diri sendiri orangtua dan saudara serta handai taulan. Dan yakin ketika seorang anak mendapatkan bekal ilmu agama yang baik atau sekiranya pernah mengenyam pendidikan di pondik pesantren insyallah ketika anak itu sukses, tidak akan pernah melupakan orangtuanya barang sejengkalpun. Baginya apa yang dia dapat di dunia, kesuksekan pangkat ataupun harta benda bukan saja atas kerja kerasnya semata, tetapi ada do'a orangtua yang mengiringi langkah di setiap usaha nya.
Begitulah pelajaran yang kita bisa ambil dari komunikasi produktif hari ini
#harike 5
#tantangan10 har
#komunikasiproduktif
#bunsayiip

Komunikasi produktif "day 4"

Mulai terbiasa dan pasti suami yang mengawali, trims sayang..kau selalu sempat kan waktu untuk ngobrol denganku biasanya udah fokus aja sama hapenya sampe kita uring-uringan ngga jelas, perlahan semoga bisa memperbaiki komunikasi kita. Semoga ini bisa menjadi kebiasaan kemudian mengarah ke arah yang lebih produktif sehingga setiap apa yang kita komunikasikan memberikan satu manfaat tersendiri untuk diri sendiri, pasangan dan keluarga. Melalui komunikasi produktif ini kita juga bisa belajar dari pasangan kita, bukankah belajar itu dari mana saja dan dari siapa saja, bersyukur ketika kita mempunyai pasangan yang kalau di ajak ngobrol bisa nyambung, kadang ketawa bareng, senyum-senyum dan berbagai ekspresi bercampur disitu. Seperti kali ini bahasannya tentang seorang yang dulunya tidak bisa baca al-qur'an kemudian dia belajar al-qur'an dan mempelajari islam dengan cara "jiping" ( ngaji kuping) artinya ilmunya di dapat hanya dari mendengarkan saja. Padahal mencari ilmu apalagi ilmu agama itu ada proses nya, tidak bisa instan seperti itu. Dan suamiku termasuk orang yang tidak mau pamer, apapun itu dan suamiku termasuk tipe orang yang bisa menyesuaikan dengan lawan bicara, tidak pernah menggurui dan dia mengalir saja. Kalau dengan orang biasa dia tidak akan bicara bahasa intelek, tapi kalau sudah ketemu temen semasa kuliah wah..jangan ditanya, topik pembicaraan nya ngeri..untuk orang seperti saya kadang tidak faham, hee..
Kemudian suami bertanya kepadaku apa definisi keluarga islami menurutmu? Yah..aku jawab secara kasat mata nih yah..yang aku tahu..keluarga yang harmonis, shalat berjamaah bersama-sama, ngaji sama-sama, dari pakaian yang wanita berhijab, yang lelaki pakek peci atau gamis, oh..seperti itu kata suamiku, kita bisa saja seperti itu, tapi islam memakainya tidak seperti itu..oke..aku bingung.. Sampai situ.
Lanjut suami, aku tahu istriku orangnya suka tantangan, aktifis, kemauannya keras, kreatif (kadang-kadang) hhmm..pakek ada embel-embel. Nah..dari sini aja kita sudah mulai memahami karakter pasangan, sehingga ke depan jika komunikasi produktif ini menjadi habit, untuk keluarga kita insyallah keluarga sakinah, mawadah, warahmah bisa kita raih. Amin

Komunikasi produktif "day 3"

Hari ketiga di tantangan komunikasi produktif saya mencoba berbincang dengan si kecil Azharil (3,7 tahun) yang sebentar lagi masuk PAUD insyallah..banyak banget kita ngobrol aku tanya dia jawab selalu ada jawaban begitu sebaliknya, yang menggelikan seperti tadi
Mama : Azharil mau punya dedek Tidak?
Azharil : mau..
Mama: cowok apa cewek?
Azharil : cowok..dengan nada khasnya
Mama : cewek ajalah
Azharil: cowok ( mulai ngeyel)
Mama: ( nyerah deh..) kenapa cowok?
Azharil : sebab...( khas ipin upin), lama aku tunggu..sebab..bisa minum susu
Mama : *$#@%&;"*&
Polosnya si kecil, kadang kita tanya apa jawabnya apa haduhh ngga nyambung banget ini, kadang juga butuh waktu untuk mencerna apa yang di ucapkan..tapi jangan sampai kita menyepelekan anak dengan bicara "ngomong apaan sih? " itu udh menyakitkan hati anak, kita hanya butuh beberapa detik untuk mencernanya kok, bersabarlah.. tidak usah langsung di sanggah begitu, kadang kita sebagai orangtua pun harus sering- sering mengajaknya ngobrol, bisa kita yang mendahului bertanya atau biasanya anak kan suka bertanya di jawab eh..tanya lagi.. Terus tanya lagi tidak ada habis nya,  dengan seringnya kita berkomunikasi dengannya insyallah kedekatan kita semakin rapat, bahasa kerennya bisa bangun bonding gitu..
Dan..komunikasi produktif itu bukan hanya antara suami dengan istri saja, bisa juga ibu dengan anaknya, bisa juga buat forum ada anak ibu dan bapak. Begitulah.. Serunya berkomunikasi apalagi dengan anak-anak selalu ada sesuatu yang baru.
Kita belajar bersama yah sayang..
#hari 3
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#bunsayiip

Rabu, 25 Januari 2017

Komunikasi produktif

Komunikasi produktif dengan suami kali ini, lumayan berat pembahasan nya tentang makna surat al fatikhah..jadi teringat ujian sekolah mapel agama pernah suruh hafalin makna surat fatikhah, sebenarnya bukan ilmu baru tetapi kalau tidak diingatkan lupa juga kan..diskusi pun akhir nya mengalir dan bahasannya bnyak tentang qurban, kisah qobil dan habil tentang orang yang sombong, karena hakikatnya manusia itu tidak berhak untuk menyombongkan dirinya, hanya allah yang maha segalanya yang berhak sombong.
Manusia juga di berikan akal, hati dan nafsu ketiganya harus seimbang dan di dalam hati manusia sesungguhnya telah di berikan nur(cahaya) tapi cahaya itu bisa redup jika kita tidak melaksanakan perintahNYA dan menjauhi laranganNYA.
Serta bagaimana peran ibu sebagai madrasatul ula, luar biasa.. asyik yah ngobrol begini aku bilang Gitu, dan suami bilang asyik lah..apalagi sembari istriku senyum-senyum gitu. Aih..merahlah pipiku jadi kaya siti aisyah deh..si pipi kemerah-merahan.
#hari 2
#tantangan10 hari
#komunikasiproduktif
#bunsayiip