Senin, 06 Maret 2017

komitmenku

kelas sekolah perempuan kini telah di mulai, semua peserta bersemangat mengikutinya. teh indari mastuti selaku founder sekolah perempuan yang kali ini mengawali dan membuka kelas dengan share videonya yang sangat menarik, memberikan motivasi yang luar biasa, bagi seluruh peserta sekolah perempuan. di awal pertemuan kali ini kita diingatkan lagi komiten kita sebagi penulis, sudah mantapkah kita sebagi penulis??? apakah masih ada yang ragu-ragu...begitu kata teh indari. jika masih ada yang ragu-ragu buang jauh perasaan itu. kita yakinkan dan mantapkan dalam hati bahwa 3 bulan ke depan kita bisa membuat satu nasakah buku siap terbit. tentu saja dengan konsintensi yang tinggi, menjadi seorang penulis itu tidak mudah butuh perjuangan untuk mewujudkannya, dan seperti yang tertanam dalam hatiku bahwa kesuksesan itu bersyarat dan salah satunya syaratnya yakni bekerja keras, siap tidak untuk sukses?? siap tidak untuk menjadi penulis produktif dan terkenal?? kuncinya ada di dalam diri kita sendiri, dan kita yang bisa menjawabnya. bismillah dengan ridho dan dukungan suami serta anakku, aku yakin bisa menjada penulis produktif dan terkenal di usia 30 tahun aku sudah menerbitkan 4 judul  buku best seller, amin.
bersama sekolah perempuan inyallah akan melahirkan sejuta penulis, tentu saja dari kalangan perempuan karena ini sekolah khusus untuk perempuan, alhamdulillah kita punya wadah yang benar-benar mengapresiasi kaum perempuan, semoga para suami selalu mengizinkan istrinya untuk belajar dan terus belajar, hingga sang istri mencapai apa yang dicita-citakannya tanpa meninggalkan kewajibannya sebagai istri dan ibu, semangat belajar...semangat...semangat....

Sabtu, 04 Maret 2017

MUNAJAT CINTA KALILA...

Matanya masih saja tertuju keluar jendela, hujan deras yang kini turun tak menghalangi bocah-bocah itu untuk bermain air berlarian kesana kemari menendang bola bergantian, senyum simpul pun menghiasi wajah ayunya yang kini mulai pudar termakan usia, hanya kursi roda yang menemaninya setiap hari, de javu masa lalunya pun berkelebat dan sungguh jelas ketika alunan lagu itu terdengar kembali, “munajat cinta” milik the rock.  Tuhan..kirimkanlah aku...kekasih yang baik hati...yang mencintaiku..apa adanya. Begitulah kira-kira lirik yang sering mereka nyanyikan berdua, ada harapan yang tersimpan dalam lirik lagu tersebut. Lirik pengharapan seseorang yang ingin dicintai apa adanya, dan dia memohon kepada tuhannya untuk mengirimkan seseorang yang baik hati dan tidak pernah menyakiti. Tapi kenyataanya kini berbeda rendi telah pergi meninggalkannya, meninggalkan luka yang mungkin tidak akan pernah hilang di hatinya sampai kapanpun, rendi yang telah berjanji kepada kedua orangtua kalila saat itu. Ketika keduanya telah lulus kuliah dan rendi pun belum mempunyai pekerjaan, kalila menerima apapun keadaan rendi saat itu karena mereka yakin bahwa cinta yang ada diantara mereka, akan membawa mereka menuju muara kebahagiaan abadi dan mereka siap menghadapi hal sesulit apapun, tetapi itu semua hanya mimpi yang tidak akan terwujud. Hanya khayalan semu belaka perih hati kalila jika harus mengingat segalanya, senyum kembali tersungging ketika matanya masih memandang hujan yang turun di luar sana, serta anak-anak dengan riang gembiranya berlarian di bawah hujan seperti tidak punya beban yang mereka rasakan, ingin rasanya kalila berlari, bergabung dengan mereka dan merasakan tubuhnya basah oleh air hujan, apalah daya untuk berjalan saja dia tidak bisa, bahkan kemana-mana harus menggunakan kursi roda. Kecelakaan itulah yang menyebabkannya, setahun pernikahan mereka belum juga di karuniani buah hati, barulah tahun kedua janin itu hadir di rahim kalila, dengan usaha yang sangat keras  kalila karena dia tidak ingin dikatakan mandul, seperti yang sering rendi katakan padanya, bahwa selama ini mereka tidak kunjung di karuniai momongan karena istrinya mandul, duh...sakitnya hati kalila saat itu tapi kalila bersabar dan berusaha tidak marah dengan segala perkataan suami yang sangat dicintanya itu, apapun saran yang masuk ke telinganya pasti kalila lakukan demi mendapatkan keturunan, rendi lupa bahwa anak itu adalah karunia dari tuhan yang tidak bisa di minta dan di tolak seenaknya saja, pun keberhasilan pembuahan itu di tentukan oleh kedua pasangan, apalagi makanan yang mereka konsumsi dan kebiasaan-kebiasaan mereka juga berpengaruh terhadap proses terbentuknya janin, misalnya merokok,  minum alkohol dll. Tapi rendi tidak mau tahu dan terus saja mencaci maki dan memarahi kalila, suatu ketika pernah rendi pulang dlam keadaan mabuk dan tidak ada makanan yang tersaji, kursi pun melayang kerahnya, astaghfirullah...teriak kalila sembari menghiandar, hanya itu kata yang keluar dari bibir tipisnya yang manis, dengan derai air mata yang membasahi pipinya.  Kalila berdo’a dalam hati agar suaminya diberi kelembutan hati oleh allah, dan menyayangi dirinya layaknya manusia, hanya itu yang kalila inginkan. Tahun kedua tuhan mengabulkan do’a kalila yang setiap malam tidak berhenti dia panjatkan,  betapa bahagia hati kalila saat itu, ingin rasanya dia mengumumkan kepada dunia bahwa dia kini sedang mengandung buah hatinya dengan rendi, yah..dengan penuh keyakinan bahwa rendi akan kembali mencintainya lagi seperti dahulu, mencium kening dan perutnya juga berkali-kali mengucapkan syukur, sepanjang perjalanan pulang itulah kalila berkhayal dan tanpa henti memegangi perutnya yang kini telah terisi janin calon anak mereka buah hatinya dengan rendi, tapi apa yang terjadi ketika sampai di rumah ada seorang perempuan disana sedang bermesraan dengan rendi suaminya, astaghfilrullah..entah apa yang terjadi selanjutnya  Dan ketika tersadar kalila telah berada dirumah orangtuanya, ibu sembari menangis menceritakan kronologi kejadiannya, betapa hancur hati kalila, baru saja dia di berikan kebahagiaan yakni hadirnya janin di rahimnya dan kini harus diambilNYA kembali karena ketika pingsan perut kalila terkena benturan keras ke arah lemari, remuk redam kalila mengingat semuanya tanpa terasa air mata itu begitu deras meluncur membasahi pipi bulatnya, andai saja anaknya ada disini mungkin kalila akan menceritakan tentang hujan, tentang sosok ayahnya, tentang kebahagiaan mereka..ah...itu hanyalah hayalan semu belaka. Lengkap sudah penderitaan kalila karena kakinya harus diamputasi karena kecelakan motor yang dialaminya, wallahu a’alam bishawab, semua berasal dariNYA dan akan kembali padaNYA. 

Jumat, 03 Maret 2017

melatih kemandirian anak hari ke 10


pagi ini jadwal mama mencuci baju, si kecil dengan senang hati katanya mau bantuin mama, padahal mau mainan air ..hehehhe tidak apalah mainan air dulu sebelum mandi pagi, sembari merendam baju dan si kecil main air mama sipakan dulu air hangatnya yah, demikian kataku dan si kecil mulai deh melepas bajuya satu persatu. dengan riang gembira si kecil bermain air dan alhamdulillah acara mandi pagi berjalan lancar jaya, tidak ada halangan suatu apapun hehehe jadi bahagia tiada tara. setelah mandi sekarang ganti baju si kecil pun sekarang makin mahir pakai baju sendiri, mama biasanya membatuntu merapikan saja, sambil bercerita kalau baju yang di pakainya ini dibelikan mama dan abahnya, juga kaos dalam dan celananya. hehehe lucu yah si kecil..alhamdulillah kami bersyukur ya robb engkau beri anak yang pintar dan aktif serta sehat. bimbing kami..dan berilah kesabaran yang tiada batas dalam membersamainya di dunia ini ya allah, kadang suatu ketika kami di buat jengkel oleh sifat polosnya maafkan kami jika suatu ketika marah yang kami dahulukan, dan akhirnya kita pun harus faham dan kembali lagi bahwa masing-masing anak telah punya fitrahnya masing-masing dan kita sebagai orangtunya hanya bisa mengarahkan dan membimbingnya tanpa memaksa.
demikianlah setelah acara mandi dan memakai baju selesai lanjut sarapan pagi, alhamdulillah si kecil mau makan sendiri kali ini, tidak seperti kemarin yang inginnya disuapi, dan setelah selesai menjemur baju mama lihat si kecil sudah selesai makan apa belum eh...ternyata nasinya masih separo dan sayurnya sepertinya cuma di makan sedikit saja, yang habis tak bersisa hanya telor gorengnya, hhmmm memang sih si kecil paling suka makan pakai telor goreng, tapi mau sama telor terus..fikirku biar variasi gitu ada sayurnya juga, ya sudahlah inipun bisa masuk sebagai next chalenge
#harike10
#tantangan10hari
#bunsayiip
#level2 

Kamis, 02 Maret 2017

Merasa konyol..

Pagi tadi sebelum subuh..Seger nya mandi pagi. ..lagi asyik pakek sabun cair keseluruh tubuh, loh..ini kan shampoo kok aku pake di badan..duh..duh..aku tertawa sendiri di kamar mandi sambil berguna "makanya shampoo cepet habis. .lah ini apa bukan untuk keramas malah buat sekujur badan...haduhh. .
# merasa konyol

melatih kemandirian anak hari ke 9

Dan..kini aku menemukan rules nya..si kecil ternyata lebih mudah mandi pagi sebelum keluar rumah, yah..sebelum bertemu teman-temannya. Dari hari- hari sebelumnya si kecil biasanya mandi agak sianganlah fikirku masih pagi, terus kemarin juga sibuk ada tukang dirumah dan ternyata si kecil lebih mudah di ajak mandi ketika belum melakukan aktifitas lain, dan seperti pagi ini yang tidak perlu pakek drama sebelum mandi, mama pun tak perlu bnyak meluncurkan jurus rayuan-rayuan maut. Hehehe berhasil deh..aku tahu sekarang..terimakasih juga IIP karena adanya tantangan melatih kemandirian anak inilah saya lebih bersemangat melatihnya karena kita mempunyai target tersendiri, bukan memaksakan tetapi sesuai dengan tahap usia perkembangannya. Dan setelah mandi pakek baju..sudah oke..bisa lancar sendiri..next chalenge belajar memasukkan kancing baju, mama masih ngumpulin kancingnya hee selesai semua lanjut makan, agak manja nih..okelah mama suapin, sekalian mama juga sarapan. Kalau sudah kayak gini sesuap ke si kecil dua suap mamanya, aduh..gimana tidak subur coba..alhamdulillah apapun itu harus kita syukuri. Alhamdulillah
# hari ke 9
#tantangan10hari
#bunsayiip
#level2

suamiku yang baik hati

Sekian lama aku hidup disini, eh..tidak lama-lama amat sih..malah baru sebentar 7 bulan yang lalu kita memutuskan untuk hijrah dari rumah orangtua untuk hidup mandiri disini jauh dari sanak famili, terasa berat memang awalnya apalagi orang tua yang kala itu masih merasa belum ikhlas,  berjauhan dengan cucu dan anak perempuan Satu-satunya walaupun kami 3 bersaudara tapi aku anak pertama dan perempuan sendiri, begitulah setelah sanak saudara mengantar kepindahanku dan sempat beberapa hari menginap toh..derai air mata itu pun tumpah ruah juga, ya allah rasanya hatiku saat itu tidak pernah membayangkan akan hidup berjauhan dengan orang tua seperti ini, remuk redam tapi semua harus aku jalani dengan ikhlas dan penuh kesabaran karena hakikatnya setelah menjadi seorang istri aku bukanlah tanggungjawab orangtuaku melainkan suamiku yang bertanggung jawab penuh atas diriku dan seharusnya aku sudah bersama suamiku setelah dia mengucapkan kalimat  ijab qobul itu dulu, tapi ambisiku untuk berkarier begitu menggebu, dengan alasan eksplore dirilah..inilah..itulah sehingga suamiku yang baik hati mengizinkan aku untuk tetap tinggal bersama orangtuaku sambil berkarier.

Anak pertama lahir dan ketika jatah cuti habis galau melanda dan aku masih bersikukuh lanjut karier, oke..suamiku yang  baik hati itu masih juga mengizinkan walaupun dia harus seminggu sekali pulang demi bisa menemui istri dan buah hati tercintanya, baginya tidak jadi masalah semua akan dia lakukan demi kebahagiaan kita, waktu berjalan dan galau terus melandaku. apalagi ketika itu ditambah pengetahuanku yang minim tentang ASI perah, hingga kegalauan tidak ada yang mau mengasuh anakku dirumah. Akhirnya si kecil yang kala itu baru akan menginjak 2 tahun sudah di ajak ke pasar sama neneknya, teriris batinku melihatnya, yah..kasihan melihat anakku yang tidak mau ikut ke pasar tetapi harus di paksa-paksa ya allah bodohnya aku kala itu..kasihan juga melihat ibuku yang semakin tua bukannya ringan beban hidupnya malah bertambah berat dengan beban seorang cucu, belum lagi di pasar panas, bau sampah, ya robb..malangnya putraku kala itu, kadang juga berangkat belum mandi juga belum makan. Sementara ibunya berangkat sudah cantik dan wangi, ibu macam apa aku ini? Makian dan cacian yang aku tujukan untuk diriku tidak pernah berhenti bahkan merasa gagal menjadi seorang ibu pun pernah aku rasakan, seperti itu halnya teman-teman ku sesama wanita karier yang juga seorang ibu rumah tangga dan mempunyai anak,  kira-kira alasan kegalauannya tidak jauh berbeda.

Dan betapa sangat bodohnya aku dengan semua itu tidak cukup membuka mata hatiku, dimana rasa iba dan kasih sayang ku yang murni dan suci dari dalam hati? Entahlah..ditambah dengan beban pekerjaan yang lainnya karena kala itu aku juga melamar pekerjaan yang lain. Dasar serakah satu pekerjaan saja tidak cukup sekarang ditambah pekerjaan yang lain, dimana naluri keibuanmu..tega kau biarkan anakmu panas-panasan di pasar sedang kamu enak-enakkan dikantor sambil makan dan minum yang enak, tuh..lihat anakku kelaparan tadi belum sarapan. ..malaikat berulang kali mengucapkan dan aku masih cuek saja, lihat juga suamimu yang sendirian setiap malam di kamar Kost sempit tidak ada yang menemani atau sekedar membuatkan secangkir kopi kau pun abaikan pahala di depan matamu demi atas nama eksplore..ah..apa itu eksplore..lihat juga ketika dia pulang kerumah untuk menemui istrinya kau pun masih berkepala batu dan berhati keras, dimana nuranimu??malaikat terus mengingatkan dan aku masih tak menghiraukan. 

Sungguh ada apa dengan diriku saat itu, dan setelah bertambahnya pekerjaanku semakin sibuklah aku dan semakin tak teruruslah anakku apalagi dengan suamiku yang hanya pulang seminggu sekali dan tidak tahu betapa repotnya aku, setan masih menggelayuti ku dengan terus membuat aku cuek bahkan benci dengan suamiku bahkan setan pun pernah merayuku untuk berpisah dengannya, eits..Kalau yang satu ini tidak akan berhasil karena cinta yang kini ada diantara kita bukan hanya cinta lawan jenis biasa saja, tetapi insyallah allah ridho dengan pernikahan ini dan allah akan selalu melanggengkan hubungannya ini demi untuk lebih mendekatkan diri padaNYA dan untuk selalu beribadah padaNYA. Cek cok mulai sering terjadi diantara kita dan pernah suatu malam suamiku sangat marah padaku, aku dan anakku gemetar luar biasa..takut..karena baru kali ini aku melihatnya semarah itu. Bukan tanpa alasan aku yang menyulutnya, yah...karena waktu itu deadline menanti dan suami pulang ekpektasinya ketika sampai rumah dia akan di sambut oleh istrinya yang berdandan cantik juga anaknya yang berlarian sambil menyebutnya, anakku memang demikian berbeda denganku yang masih sok sibuk dan tak mempedulikan kepulangan suamiku sama sekali, Hingga akhirnya dia marah besar. 

Dan bukan hanya sekali itu saja kita bertengkar bahkan sering hingga akhirnya suamiku yang baik hati memintaku untuk pindah dari rumah orangtua  dan menempati rumah yang belum selesai kita bangun, oh iya..sewaktu kita sering cek-cok itu suamiku sedang berusaha mati-matian mewujudkan sebuah tempat tinggal yang layak untuk anak istrinya, tapi apa yang aku lakukan, bukannya menghibur atau sekedar berempati padanya dan menanyakan sejauh mana pembangunannya, tidak..sama sekali tidak..aku masih saja menjadi manusia yang sombong dan congak, merasa bisa melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain bahkan suamiku ah..aku hidup tanpanya pun aku bisa kok..naudzubillah tsuma naudzubillah begitu congaknya aku, hingga akhirnya dengan masih berdebat aku mengiyakan dan akan ikut pindah bersamanya tapi sekarang, gila tidak tuh..lagi-lagi suamiku yang baik hati dengan lembut memintaku untuk bersabar, dan masih sering berdebat bahkan ketika kita di tempat kerja masing-masing, sampai sempat juga suamiku seakan putus asa dan alhamdulillah allah membukakan pintu hatiku, aku mulai menyadari satu persatu tugas dan kewajibanku sebagai istri dan terutama sebagai ibu, waktu itu bertepatan dengan bulan ramadhan. aku dengan membaca basmallah dan kemantapan hati mengambil keputusan itu. Yah..keputusan untuk hijrah dari rumah orangtua kerumah yang telah dengan susah payah diusahakan suamiku untuk hidup bersama dengan anak istrinya,  dan rumah yang akan menjadi tempat kita beribadah kepadaNYA mendekatkan diri padaNYA serta bersyukur dengan semua yang telah allah karuniakan untuk kita, awalnya suami masih terus mewanti-wanti kalau keputusanku ini bukan karena emosi semata dan tidak akan ada penyesalan di kemudian hari. 

Oke..di hari yang sudah ditentukan aku dan anakku boyongan..suami menunggu dirumah baru kita, dan Sanak keluarga pun turut mengantarkan dan mereka pun satu persatu menangis tatkala akan pulang kembali, hanya do'a yang terbaik yang aku harapkan dari mereka, apa kabar hatiku kala itu ketika melihat orangtuaku dengan sebisa mungkin menahan beratnya berpisah dengan anak dan cucunya, tapi ini keputusanku dan harus aku jalani karena ini yang terbaik menurut agamaku aku meyakinkan dalam hati dan pecah juga air mata kita..sungguh mengharu biru dan jika seandainya bisa, aku ingin mereka tinggal bersamaku disini, yang membuat aku paling mengiris adalah bapakku, yah.. seorang lelaki yang terlihat kuat dan tegar bahkan bisa di bilang bapakku adalah orang yang keras,  sama kerasnya seperti diriku. ternyata  hatinya lembut, terbukti dari airmata yang keluar membasahi pipi tuanya, tidak ada pengharapan lain dariku kecuali do'a dari mereka. Ya allah..beratnya masa adaptasi hingga akhirnya memasuki bulan kedua disini si kecil harus masuk rumah sakit 3 hari karena positif typus, entahlah mungkin karena aku belum becus mengurusnya atau memang aku tidak pantas menjadi seorang ibu. 

Ditengah kegalauan itu suamiku yang baik hati tidak ingin istrinya terkungkung saja dirumah tanpa tahu perkembangan dunia luar, pasanglah Internet dirumah senangnya hatiku rencana sekalian buat buka loket PPOB alhamdulillah sampai sekarang belum terwujud karena kendala printer, dan allah memang maha baik ketika aku berselancar di dunia maya aku bertemu komunitas ibu profesional dan kala itu akan mengadakan matrikulasi batch#2 tanpa fikir panjang oke aku daftar, oh..ternyata berbayar tidak masalah selama masih terjangkau..alhamdulillah terjangkau dan terceburlah aku kedalamnya, dan aku kembali menemukan diriku, menemukan orang - orang satu frekuensi. Yah. .kebanyakan dari mereka sarjana bahkan ada yang magister tak masalah bagi mereka jika  harus menjadi ibu rumah tangga biasa saja, bahkan mereka bangga menjadi seorang ibu. Lantas. .kenapa aku tidak?

begitulah hidup tidak ada yang tahu bagaimana dan seperti apa kita esok hari, tapi suamiku yang baik hati selalu mendo'akan kebaikan -kebaikan untukku, untuk anaknya bahkan dia pun tanpa lelah bekerja seharian rasa capek dan lapar kadang dia tidak perdulikan, ya allah jadikan setiao tetes keringat yang keluar dari tubuh suamiku menjadi penghapus dosanya, dan aku bersaksi bahwa dia adalah suami yang baik hati, suami yang bertanggung jawab. ya allah izinkan kami berkumpul di dunia dan di akhirat kelak, dengan penuh kebahagiaan. amin

Rabu, 01 Maret 2017

Melatih kemandirian anak hari ke 8

Alhamdulillah pagi tadi si kecil mama suruh mandi udah nurut malah semangat waktu mama bilang boleh main busa sabun dulu terus mama buatin perahu dari kertas juga, langsung deh meluncur sendiri ke kamar mandi. Mama menyiapkan air Angetnya dan ketika mama ke kamar mandi eh..celananya udah di lepas, karena bajunya berkancing mungkin agak sulit kali yah..akhirnya mama bantu si kecil dan. .Begitulah anak-anak, biarlah dia menikmati dunianya yah..dunia bermain, selalu bersabarlah bunda membersamai putra putri kita, karena merekalah ladang pahala kita, dan islam menyuruh kita untuk berlaku lemah lembut padanya, anak adalah bunga yang tumbuh dan harum. Begitulah bun..semakin hari semakin ada perbaikan dan semua itu butuh kesabaran, karena hakikatnya masing-masing anak telah membawa fitrahnya sendiri, termasuk fitrah belajar dan kita sebagai orang tuanya hanya perlu menemaninya, membimbingnya tanpa harus merubah dirinya dengan mengikuti segala yang kita mau, setelah mandi pakek baju sendiri dan..hari ini manja maunya mama yang pakein mama harus tega, mama dengan tegas bilang " ngga mau.. itu adalah kata-kata kepercayaan bahwa anakku bisa, dan memang bisa si kecil melakukan itu sendiri. Prinsipnya kita harus tega ketika melihat si kecil kita belajar mandiri jangan luluh ketika si kecil merengek, menyerah dan membantunya bagiku bukan solusi, lebih baik kita berikan si kecil semangat dan sedikit petunjuk mungkin si kecil masih belum tahu. Percayalah bunda..si kecil itu bisa..cuma kadang naluri kita sebagai ibu yang tidak mau membiarkan anak kita kesusahan yang kadang menggoyahkan tekad kita untuk melatihnya mandiri, seperti sore kemarin yang juga si kecil merengek minta suapin. Bukan mama jahat dan tidak mau nyuapin kamu nak..tapi mama yakin kamu pasti bisa, yakinku dalam hati dan yah..memang bisa. Tapi sekali waktu kita ingin menyuapinya pun tidak masalah bun..ini kan latihan bukan berarti kita langsung memintanya untuk melakukan semuanya sendiri tanpa campur tangan kita sebagai orang tua. Trims anakku..mama banyak belajar darimu sayang..
# hari ke 8
#tantangan10hari
#bunsayiip
#level2